Remaja dan Lintingan Tembakau
HAI
Sebenernya, tulisan ini udah ada di draft dari tahun 2015, cuma baru gue post sekarang karna kebiasaan gue menunda-nunda pekerjaan, yang mengakibatkan ada 2 post yang publish duluan.
Ternyata, ada untungnya tulisan ini engga jadi gue post pada tahun 2015, karena gue jadi bisa melakukan observasi lebih dan nemuin fakta-fakta yang menurut gue itu baru, terkait topik yang bakalan gue bahas.
Disini, gue bener2 menuliskan sudut pandang gue mengenai remaja -seumuran gue- yang ngerokok, dan gue pribadi adalah seorang non-smoker.
Jadi, gue bener-bener engga punya maksud untuk menyindir atau menyinggung siapapun, dan gue minta maaf kalau ada yang ngerasa seperti itu ketika membaca post ini
Karena itu feel free untuk ngisi kotak comment kalau ada kata atau kalimat gue yang menyinggung ya :)
Jadi, gue bener-bener engga punya maksud untuk menyindir atau menyinggung siapapun, dan gue minta maaf kalau ada yang ngerasa seperti itu ketika membaca post ini
Karena itu feel free untuk ngisi kotak comment kalau ada kata atau kalimat gue yang menyinggung ya :)
---
Gue tau gue udah ngomong berkali-kali kalau gue itu adalah seseorang yang baru saja menyandang status baru yang disebut Mahasiswi, dan entah kenapa gue ngerasa nemuin banyak banget hal-hal baru.
Contohnya adalah, ketika gue ngeliat secara live orang-orang yang seumuran sama gue itu ngerokok.
Gue sadar gue norak, tapi buat gue pribadi, ketika gue ngeliat orang yang seumuran gue ngerokok itu adalah suatu hal yang aneh sekaligus tentu saja salah.
Contohnya adalah, ketika gue ngeliat secara live orang-orang yang seumuran sama gue itu ngerokok.
Gue sadar gue norak, tapi buat gue pribadi, ketika gue ngeliat orang yang seumuran gue ngerokok itu adalah suatu hal yang aneh sekaligus tentu saja salah.
Alasannya karena dari dulu gue dibesarin di lingkungan pendidikan yang cukup ketat, dimana rokok adalah salah satu dari sekian banyak hal yang bisa membuat lu diberi label 'rusak' oleh lingkungan sekitar, ketika lu mencoba atau melakukan hal tersebut.
Tapi ternyata, ketika gue mulai masuk ke bagian terbaru dalam hidup gue, gue jadi sadar kalo selama ini gue udah hidup di dunia yang istilahnya, terlalu 'aman', yang membuat gue melihat dunia cuma dari sisi 'baik-baik'nya doang.
Karena ketika gue mulai menjalani dunia perkuliahan, jujur aja sebelum mengenal temen-temen baru gue secara lebih dekat, gue itu menganggap mereka sama kaya anak-anak dari SMA gue dulu, yang dimana ternyata mereka benar-benar berbeda dari pikiran gue.
Gue mengalami semacam culture shock ketika gue tau salah satu dari temen cowo sekelas gue itu ngerokok, gue bener-bener ga nyangka dan ga percaya saat itu.
Terus, beberapa minggu kemudian gue kembali menemukan 2 cowo lain di dalam kelas gue yang juga nyemok, makin menjadi-jadi lah rasa shock gue saat itu.
Gue inget banget dulu, bahwa gue punya prinsip ga akan pernah mau deket-deket, apalagi berteman sama orang yang ngerokok. Karna gue sendiri pun udah memberikan 'label' ke smokers bahwa mereka itu menyebalkan.
Kenapa?
Karena gue punya banyak banget pengalaman menyebalkan dengan orang-orang yang ngerokok.
Gue ambil satu contoh yang paling simple.
Selama gue sekolah dari SMP sampai SMA, gue selalu memilih untuk menggunakan angkutan umum sebagai transportasi buat mengantar gue sampai kedepan pintu rumah, dan pilihan itu paling sering jatuh ke kendaraan berwarna oranye beroda 3 yang perlahan mulai berganti menjadi biru, bernama Bajaj.
Kenyataannya adalah, 80% dari semua bajaj yang gue naiki, supirnya itu pasti mengendarai bajaj sembari ngerokok.
Dari sinilah gue benci sama smokers, gue selalu ngerasa mereka ngambil hak kami, para non-smokers, untuk menghirup udara Jakarta yang pada kenyataannya sudah engga bersih karena asap knalpot.
Tapi memang gue sendirinya juga cupu sih, gue engga berani ngomong ke supir bajaj-nya untuk matiin rokok beliau saat itu.
Gue saranin ke siapapun yang baca ini dan sering naik angkutan umum apapun yang supirnya ngerokok, jangan takut buat suruh mereka matiin rokoknya ya!
Karena itu hak kita sebagai penumpang yang udah bayar, oke?
Jangan jadi gue yang udah bayar -walaupun ga mahal- tapi mau aja naik kendaraan mereka sambil nutupin hidung terus.
Gue punya banyak alasan yang bisa gue sebutkan untuk engga suka sama rokok dan perokok. Salah satunya karena orang terdekat gue pun juga dulu adalah seorang perokok berat, yaitu bokap gue sendiri.
Gue yakin dan percaya kalau sakit yang beliau derita sekarang itu sebagian besar dipengaruhi sama kebiasaan rokoknya beliau dulu yang sudah parah banget.
Sejujurnya, bokap gue pun adalah salah satu orang yang juga engga tau tempat untuk ngerokok.
Gue, yang adalah anaknya sendiri, yang jelas-jelas punya gangguan pernapasan sejak kecil, ga menghalangi beliau buat ngeluarin asap berbau tembakau itu dari mulutnya. Mungkin karena gue masih kecil, saat itu gue ga pernah protes atau ngelakuin apapun, gue melihat bokap gue merokok sebagai sesuatu yang biasa aja. Mungkin juga karena dulu gue engga tau kalau asap itu bisa memperpendek umur gue.
Sampai ketika gue mulai mengerti arti sesungguhnya di balik setiap iklan rokok yang hanya boleh mulai ditayangkan diatas jam 10 malam, gue akhirnya tau dan mulai menganggap bahwa benda ramping berwarna putih yang selalu di hisap-hisap sama bokap gue itu bukan sesuatu yang bagus, begitu pula dengan asap yang dihasilkannya.
Gue mulai ngomel-ngomel setiap kali bokap gue mulai nyalain rokoknya didepan gue, dan untungnya beliau masih mau pindah tempat, atau setidaknya bergeser sedikit, supaya gue engga terlalu deket sama asap rokoknya :')
Kembali ke temen-temen gue. Ketika gue tau mereka ternyata menggunakan barang-yang kasarnya- sudah hampir gue 'haram'kan dari kehidupan gue, jujur aja gue kecewa sih, tapi gue masih cukup normal untuk engga jaga jarak sama mereka hanya karena masalah itu.
Malahan, pada kenyataannya gue malah melanggar prinsip gue sendiri untuk tidak akan pernah berteman dengan smokers.
Disinilah gue ngerasa bahwa gue mengalami sesuatu yang baru dalam kehidupan gue, yang sebelumnya ga pernah gue bayangkan.
Anehnya, entah kenapa gue malah ngerasa excited banget, dan karena itu lahirnya posting-an ini.
Pertama, ga tau kenapa gue ngerasa respect banget ke temen-temen gue ini, karena mereka sama sekali engga pernah ngerokok dihadapan kita-kita yang non-smokers, dan gue pribadi sangat salut dengan hal itu.
Karena menurut gue bukan suatu hal yang gampang untuk menahan keinginan mereka, dan mereka bisa ngelakuin itu demi menghargai kita-kita.
Gue ngerasa mereka keren banget, ga bohong :')
Dari sinilah, stereotype yang sudah gue berikan itu akhirnya gue copot. Gue akhirnya bisa menganggap bahwa ga semua perokok itu menyebalkan, bahkan pada kenyataanya gue jadi berteman cukup dekat sama mereka.
Di atas gue ada sebutin kalau gue nemuin fakta-fakta menarik yang tentunya berhubungan sama topik ini dan mengakibatkan tulisan ini kepending semakin lama, dan di bawah ini akan gue jelasin ceritanya secara garis besar.
Tgl 19-20 September 2015 gue ada acara MaKrab (Malam Keakraban) untuk anak-anak angkatan baru di jurusan gue. Singkatnya, waktu briefing itu sudah diumumin oleh ketua acaranya, bahwa buat para mahasiswa/i yang merokok, selama kita ngejalanin MaKrab di tempat itu dilarang untuk merokok.
Nyatanya, begitu sampai disana dan dilakukan pemeriksaan barang bawaan secara diam-diam, para senior menemukan banyak banget bungkus rokok dari kamar anak laki-laki, yang berakhir dengan semua rokok mereka disita.
Sampe akhirnya, saat ketua acaranya lagi keluar dari tempat kita ngadaib MaKrab tersebut untuk mengurus sesuatu, ada satu senior perempuan yang memberikan pengumuman, pakai pembesar suara (toa), bahwa buat siapapun yang kepengen ngerokok, mereka diberikan kesempatan untuk melakukan hal itu selama kurang lebih 10 menit sebelum sang ketua acara kembali.
Jujur aja, gue merhatiin mereka semua yang langsung jalan ke arah lapangan kosong secara ramai-ramai dan tanpa ragu menyulut rokoknya.
Seperti yang udah gue sebutin diatas, temen-temen gue memilih untuk engga pernah ngerokok depan kita-kita yang engga ngerokok, dan ketika gue melihat ternyata ada smokers-yang dalam hal ini seumuran sama gue-, tanpa segan menyulut lintingan tembakau itu didepan kami para non-smokers, timbul rasa ingin tahu dalam diri gue.
Sebenernya tuh apa sih yang mereka (para smokers) rasakan ketika menghisap benda tersebut. Gue jadi kepengen tau dari sudut pandang merekanya secara langsung.
Karena pandangan gue sendiri pun kembali bergeser....
Gue jadi punya pemikiran, bahwa ada orang yang merokok supaya terlihat keren...
Karena itulah gue memutuskan untuk menanyakan hal ini secara langsung ke 3 temen gue, yang untungnya, mereka dengan senang hati bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh yang tujuannya cuma buat menghapus rasa penasaran gue doang.
Awalnya gue agak ragu untuk 'mewawancarai' teman-teman gue ini, gue takut memasuki batas privasi mereka, tapi ternyata responnya diluar dugaan gue banget.
Mereka semua dengan senang hati menjawab pernyataan-pertanyaan gue.
Hasil 'wawancara' ini membuat gue jadi tau banyak hal baru dan bisa ngeliat dari sudut pandang yang baru juga.
Gue jadi tau, bahwa ternyata ada orang yang ngerokok ketika mereka kepengen ngerokok doang, misalnya ketika ngumpul sama temen-temen.
Dengan alasan, "Supaya gue gak jadi perokok pasif"
Kita semua pasti tau kalau perokok pasif itu punya kemungkinan terkena penyakit lebih besar ketimbang perokok aktif itu sendiri, dan karena alasan inilah dia memilih untuk ngerokok.
Gue bener-bener baru tau ada orang yang punya pemikiran seperti itu.
Ada lagi yang menjadikan rokok sebagai 'obat'. Kalau yang ini gue udah sering denger dan baca di novel-novel teenlit zaman gue SMP dulu, dan sejujurnya gue agak skeptis akan hal itu.
Gue ga percaya ada orang yang ngerokok cuma buat nenangin diri, menurut gue itu adalah hal yang bodoh banget dan ga masuk akal.
Karena gue ga bisa melihat darimana sebatang lintingan tembakau dan rempah-rempah lain yang dibakar dan yang sepengetahuan gue rasanya tidak enak (atau mungkin tidak ada rasanya) bisa menenangkan suasana hati seseorang.
Because there are lots of good things to increase your mood,
Mulai dari makanan, seperti coklat yang dapat meningkatkan hormon endorfin untuk menciptakan rasa senang dan mengurangi hormon kortisol yang menjadi penyebab stres.
Atau mungkin Es Krim yang mengandung banyak asam amino trytophan yang dapat menenangkan otak dan tentu saja mengurangi stres
(Source: http://www.gubuginformasi.com/2014/04/10-makanan-yang-bisa-membuat-anda-senang.html)
Dan solusi yang secara pribadi selalu gue gunakan, yaitu tidur.
Sampai akhirnya salah satu temen gue yang bilang sendiri soal hal itu. Ketika dia ngerasa setres, dia perlu rokok untuk memberikan rasa tenang.
He said, "Somehow smoking can heal me"
Karena rasa penasaran gue engga habis-habis, gue pun akhirnya memutuskan untuk menggunakan jasa google untuk menjawab perntanyaan gue. Dengan Keyword "Rokok memberikan rasa tenang", gue nemuin 1 web yang membahas soal rokok.
->http://www.sitikhodijah.com/index.php/article/id/17/Bahaya+Asap+Rokok
" Ketenangan yang didapatkan dari menghisap rokok berasal dari Nikotin yang dikandung oleh Tembakau Rokok. Nikotin ini merangsang otak untuk memproduksi dopamin, sebuah senyawa yang membuat seorang perokok mendapatkan efek relaksasi, rasa tenang."
Yang terakhir, adalah satu-satunya dari 3 teman gue yang bilang bahwa dia menyesal pernah mencoba benda yang bernama rokok ini, karena dampak ketergantungan yang dia rasakan sampe saat ini bener-bener susah untuk di hilangkan.
Setres, bawaannya pengen marah-marah, adalah hal-hal yang dia rasain ketika engga ngerokok sehari aja. Dia bilang ke gue bahwa dia sendiri pun sebenernya kepengen berhenti, dia kepengen lepas dari ke-addicted-an dia terhadap rokok
Sayangnya alasan dia untuk berhenti masih belum cukup kuat ketimbang keinginannya untuk ngerokok.
Bagi gue, 3 pernyataan dari temen-temen gue sudah cukup bisa menjawab pertanyaan dalam benak gue.
And I'm totally change my perspective
Kata-kata ini emang mainstream banget, tapi gara-gara 'wawancara' gadungan gue ini, gue benar-benar bisa mengerti maksud dari kata-kata tersebut.
Gue juga belajar untuk memperbanyak sudut pandang gue dalam melihat sesuatu.
Karna ya...... engga semua orang punya pikiran yang sama seperti kita.
Gue belajar untuk lebih menghargai cara berpikir orang lain.
Seperti gue punya alasan kenapa gue punya mind set seperti ini, orang lain pun punya alasan kenapa mereka memilih untuk berpikir seperti itu.
At the end, gue kepengen bilang.
Sampai kapan pun, dan dimana pun,
All of us know that smoking is not a good thing.
Jangan bikin orang-orang yang peduli sama kalian khawatir,
jangan bikin orang-orang disekitar yang sayang sama kalian harus ikutan hirup asap beracun itu.
Tuhan ngasih tubuh kalian secara gratis, dan gue sangat yakin dan percaya bahwa He wants you to take care of it.
Jadi ya belajarlah untuk menyayanginya, guys.
God Bless You :)

Luar biasa mbak Hanie. Sungguh suatu pemikiran yang menarik dan berguna bagi generasi muda lainnya untuk tidak mencoba merokok.
BalasHapusSukses terus mbak Hanie! :)
BRAVO! Postingan mbak sungguh menggugah saya. Terus berkarya ya mbak Tuhan berkati!
BalasHapusMbak hanie
BalasHapusKapan nulis blog lagi ? ��������
Lagi on the way ini, nanti kalo udah jadi saya kasih tau ya mas :D
HapusMbak hanie
BalasHapusKapan nulis blog lagi ? ��������